WELCOME TO MUHAMMAD TAUFIQ'S BLOG, THANKS FOR YOUR VISIT

Senin, 28 Februari 2011

Mengapa Ada Pelajar Tega Membunuh?

Oleh : Muhammad Taufiq *

Belum sebulan kita bicara tentang kenakalan atau kejahatan di kalangan remaja, muncul lagi berita tentang terbunuhnya seorang siswa akibat perkelahian pelajar. Siswa itu bernama Andi Wibowo ( 15), pelajar SMA Widya Wacana Solo. Yang meninggal dikroyok pelajar lain, dengan 17 tusukan senjata tajam.

Meninggalnya Andi merupakan bukti yang jelas bahwa kita tidak lagi memandang perkelahian pelajar sebagai gejala kenakalan remaja yang biasa. Melainkan sudah merupakan suatu kejahatan.. Dan apakah tingkat kejahatanitu haruslah diterima sebagai satu kenyataan. Apa boleh buat, harus dipahami dan diterima sebagai realita?.

Tetapi bagaimana? Bisakah kita akan memahami sebuah kesadisan? Lebih-lebih, bila kesadisan itu terjadi atau dilakukan kalangan pelajar yang nota bene darah daging kita sendiri, karena mereka anak-anak kita sendiri?

Di sinilah inti persoalannya. Pertanyaan ini akan disusul dengan pertanyan –pertanyaan berikutnya yang lebih mendasar. Misalnya, mengapa kita mempunyai generasi muda yang dihinggapi jiwa sadisme, memiliki nafsu bangga menciderai bahkan membunuh sekalipun temannya sendiri?. Apakah anak-anak kita, barangkali, memang tengah depresi berat akibat beban sosial tertentu?. Jika benar itu persoalannya, bagaimana akar kekerasan itu bisa dijelaskan.

Perkelahiran pelajar yang sekarang kita alami tidak hanya terjadi di Jakarta saja. Juga di kota-kota yang tingkat urbanisasinya cukup tinggi: Makasar, Papua, Semarang, Medan, Bandung, Surabaya, bahkan juga ke Solo misalnya, sebagai reaksi dari gejala urban, anak-anak itu seolah-olah berkata bahwa kota-kota besar tidak memberikan tempat lagi kepada mereka, tidak memberikan space social lagi kepada mereka. Apalagi bagi mereka yang tinggal di pemukiman-pemukiman padat dan kumuh.

Lingkungan sosial di pemukiman padat, yang begitu sumpek, bagaimana pun mempengaruhi sikap kejiwaan seseorang, dan lebih-lebih bila orang itu remaja. Belum lagi tantangan mengatasi kesulitan hidup yang begitu keras, seperti mahalnya ongkos sekolah meski ada program SPP gratis. Persaingan ”kemewahan ”yang bisa didapat secara isntan bisa membentuk cara berpikir dan bertindak yang mudah beringas. Inilah salah satu sebab mengapa remaja atau pelajar ini bisa berubah beringas atau jahat dalam waktu sekejap.

Akar persoalannya adalah, kota-kota besar kita sebelumnya tidak pernah dirancang secara humanis, dalam arti memberi tempat kepada naluri warga kotanya untuk mengekspresi tindakan-tindakan manusiawi mereka. Dalam pemukiman-pemukiman kita sangat sulit dijumpai space yang memberi kesempatan warga kota untuk saling mengenal, memahami satu sama lain, apalagi untuk bisa santai dan bercanda. Banyak jabatan politik seperti walikota/bupati atau gubernur diduduki orang-orang berduit yang dalam cara pandang dan sikap melihat sesuatu kemajuan kota dari ukuran bangunan yang bernilai ekonomis.

Mengapa di kota-kota besar geng-geng dan remaja beringas berkembang pesat. Jakarta, misalnya, tempat-tempat rekreasinya memang cukup. Tapi itu bukan space sosial yang kita maksudkan sebagai tempat bertemu. Sehingga, sebenarnya tidak sedikit pelajar kita yang menjumpai hidup mereka sebagai suatu rutinitas : keluar rumah yang sumpek di pagi hari, dan pergi ke sekolah yang mungkin juga dengan fasilitas yang sumpek alias pas pasan, yang hampir tak menyediakan kemungkinan kegiatan rekreatif sama sekali.

Gambaran kesumpekan rekreatif itulah,agaknya,yang dapat menjelaskan mengapa sebagian perkelahian pelajar itu dilakukan oleh anak-anak sekolah teknik/kejuruan,yakni mereka yang umumnya berasal dari lingkungan yang nuansa-nuansa reaktifnya sebenarnya sangat kurang dan dari suatu lapisan yang juga memendam perasaan-perasaan tambahan akibat kontras-kontras sosial dengan lingkungannya. Analisis itu pun akhirnya gugur,misalnya bagaimana dengan perkelahian di sekolah-sekolah menengah elit yang non kejuruan yang dihuni anak-anak golongan borju?. Tentu saja mereka bukan dari pemukiman yang berdesak-desak bahkan sebagian dari lingkungan sosial yang kelewat ekslusif.Apakah apartemen dan rumah-rumah yang indah itu kenyatannya sunyi, bagi remaja kita ini? Benarkah mereka ini frustasi yang makin lama makin parah,dihinggapi perasaan hampa dan sia-sia,di tengah segala kemewahan instan itu.

Gambaran khas,tentang lingkungan itu,biasanya menyangkut para anggota keluarga yang jarang sekali dapat bertemu.Masing-masing mempunyai kesibukan sendiri-sendiri,dan praktis masing-masing kurang peduli. Semakin diperburuk dengan kurangnya hubungan emosional antara para anggota keluarga. Dan menjadi lengkap dengan lemahnya pedoman moral. Sisi lain akibat derasnya arus informasi yang tidak ditepis,dan di tengah keadaan itu tak ada contoh yang bisa diambil, bahkan tidak dari orang tua sendiri hanya contoh jelek dari alat komunikasi yang begitu mudah menyihir kepribadian mereka. Blokir dan pelarangan konten porno baik ,namun itu saja belum cukup

Barangkali, kalau saja kelompok-kelompok remaja yang memendam perasaan mendalam tentang pandangan hidup tumbuh pesat,kejahatan di lingkungan mereka itu bisa ditekan sampai ke tingkat kenakalan biasa.Klub-klub sain, pengajian para remaja, TPA untuk belia,misalnya organisasi-organisasi pemuda masjid.Tapi juga klub-klub sosial lain yang rekreatif di luar rumah .yang mestinya harus dikembangkan ketimbang mall dan apartemen serta hotel.

Jadi, persoalan ruang sosial yang terbatas bagi remaja di pemukiman padat, dan persoalan kehampaan bagi remaja di enklave sosial yang kaya,pada dasarnya sama.Masing-masing menjadi dorongan untuk ke luar,pergi mencari perhatian,mencari jati diri dan jalan-jalan menjadi panggung ekspresi diri mereka.

Pertanyaan selanjutnya sampai kapankah,kiranya,mereka akan terus berkelahi dan membunuh ? Jawabannya barangkali sampai kita mempunyai basis-basis keluarga yang kuat. Sampai kota-kota dibangun lebih manusiawi, bukan sekedar mall,apartemen dan hotel berbintang .Hingga sebuah kota mampu memberikan tempat-tempat yang cukup untuk kegiatan rekreatif bagi mereka. Dan kita mampu mendudukan nilai-nilai agama yang bisa secara paedagogis relevan dengan perkembangan jiwa mereka.

Solo,21 Januari 2011

  • Muhammad Taufiq, SH MH, advokat- kandidat Doktor Ilmu Hukum FH-UNS

1 komentar:

  1. tulisan yang sangat bermanfaat jika boleh tau dari sma mana pelaku penusukan andi tersebut,, karena saya sedang mengadakan penelitian mengenai agresivitas remaja dan berencana memberikan pelatihan pada anak2 tersebut..jadi saya sedang mencari subjek SMA d solo yang tepat..trimakasih atas bantuannya bapak

    BalasHapus