WELCOME TO MUHAMMAD TAUFIQ'S BLOG, THANKS FOR YOUR VISIT

Senin, 24 Januari 2011

Warga Banjarsari Berharap Keadilan


Harian Joglosemar Sabtu, 22/01/2011

SOLO—Terpidana kasus pencemaran nama baik Winoto alias Tode (54), warga Jalan Sabang, Banjarsari, Solo berharap adanya keadilan bagi dirinya. Winoto, Jumat (21/1) mengajukan penangguhan penahanan kepada Kejaksaan Negeri Surakarta, untuk menyikapi rencana eksekusi yang akan dilakukan kejaksaan. Dasar penangguhan tersebut adalah adanya beberapa hal terkait administrasi surat penetapan hukuman dari Pengadilan Negeri (PN) Solo yang mengalami kesalahan.
Kepada Joglosemar, Jumat (21/1) malam, Winoto menjelaskan ada beberapa hal yang mendasari permohonan penangguhan yang diajukannya, yakni pengaduan kepada Jaksa Agung dan Jaksa Agung Muda Pengawas. Pengaduan itu seputar kejanggalan dalam surat panggilan terpidana yang diterimanya.
Kedua, pada surat penetapan PN Solo 27 Oktober 2010 terdapat kesalahan penggunaan dasar hukum. Tode mengatakan walaupun sudah diganti dengan surat penetapan PN Solo 20 Desember 2010, namun belum ada pembatalan atau revisi dari Ketua PN Solo terhadap kesalahan itu. Dalam surat awal PN Solo menuliskan dasar hukum hukuman adalah pasal 45A ayat 2 UU No 4 Tahun 2004, padahal UU No 4 tahun 2004 sudah tak berlaku.
Ketiga, MA dalam suratnya ke pengacara Winoto, Muhammad Taufiq SH, sudah menjelaskan bahwa terdapat kesalahan ketik. Dasar hukum seharusnya adalah pasal 45A ayat 2 UU No 5 Tahun 2004. Keempat, Winoto meminta adanya perlindungan hukum untuk tidak melakukan eksekusi sampai adanya pencabutan atau revisi surat penetapan PN tertanggal 27 Oktober 2010.
“Sebenarnya ada kejanggalan lain misalnya surat panggilan terpidana pertama yang disampaikan Kejaksaan tanpa tanggal, kemudian surat panggilan kedua tanpa nomor surat. Ini surat resmi, menyangkut hidup manusia, masak tidak ada tanggal atau nomor surat,” kata Winoto.
Diberitakan Rabu (12/1), Wiwik warga Kerten mempertanyakan eksekusi jaksa terhadap Winoto yang belum dilakukan hingga pekan lalu.

Kamis, 20 Januari 2011

Di­tu­duh lang­gar ko­de etik, peng­aca­ra di­gu­gat

SOLOPOS Edisi : Kamis, 20 Januari 2011 , Hal.8

So­lo (Es­pos) Peng­adil­an Ne­ge­ri (PN) So­lo meng­ge­lar per­si­dang­an gu­gat­an ko­de etik ad­vo­kat de­ngan ter­gu­gat, peng­aca­ra He­ru S No­to­ne­go­ro, Wa­wan Ar­di­an­to, dan Li­ek A Pa­la­li, Ra­bu (19/1) pu­kul 13.35 WIB.

Hal me­na­rik da­lam ma­te­ri gu­gat­an yak­ni peng­gu­gat min­ta ma­je­lis ha­kim meng­hu­kum ter­gu­gat un­tuk mem­be­li sa­tu bu­ah tas­bih dan sa­tu bu­ah sem­poa.

Ber­da­sar­kan pan­tau­an Es­pos di PN So­lo, si­dang per­da­na per­bu­at­an me­la­wan hu­kum ter­se­but di­pim­pin oleh Ke­tua Ma­je­lis, Her­man Hu­ta­pea. Tu­rut ha­dir da­lam per­si­dang­an yang ha­nya ber­ja­lan ku­rang da­ri 10 me­nit, yak­ni peng­gu­gat Drs H Ma’ruf Iran­to SH, war­ga Ja­lan Na­ku­la I/14, Wo­no­gi­ri dan kua­sa hu­kum ter­gu­gat He­ru S No­to­ne­go­ro, Wi­yo­no dan ter­gu­gat II, Li­ek A Pa­la­li.

Ber­da­sar­kan ma­te­ri gu­gat­an de­ngan No­mor 210/Pdt.G/Plw/ 2010/PN. Ska tang­gal 2 De­sem­ber 2010, Ma’ruf Iri­an­to meng­gu­gat per­bu­at­an me­la­wan hu­kum yang di­la­ku­kan oleh He­ru S No­to­ne­go­ro, Wa­wan Ar­di­an­to, dan Li­ek A Pa­la­li. Di ma­na, pa­ra ter­gu­gat di­tu­duh me­lang­gar ko­de etik yang te­lah di­sah­kan Mei 2002 di Ja­kar­ta dan meng­khia­na­ti peng­gu­gat di Ba­ran, Ca­was, Kla­ten tang­gal 4 Ju­li 2010.

Gu­gat­an mo­ral

Gu­gat­an sen­di­ri ber­mu­la sa­at di­lang­sung­kan­nya Pil­ka­da Wo­no­gi­ri, yak­ni ter­ben­tuk­nya Ko­a­li­si Be­sar Wo­no­gi­ri Ber­sih (KBWB) oleh ti­ga peng­usung ko­a­li­si (PKS, De­mo­krat, dan Gol­kar). Pa­da sa­at itu, peng­gu­gat ber­sa­ma-sa­ma ca­lon bu­pa­ti dan wa­kil bu­pa­ti yang di­usung KBWB te­lah di­ru­gi­kan se­ni­lai Rp 138 ju­ta. “Ka­re­na, da­lam ren­tet­an urus­an pen­ca­lon­an itu, ter­gu­gat sua­tu ha­ri de­ngan ca­ra ti­dak so­pan men­da­tangi sa­ya te­ngah ma­lam di Kla­ten yang ujung-ujung­nya men­ca­ri ke­un­tung­an,” je­las Ma’ruf.

Gu­gat­an bu­kan se­ma­ta-ma­ta men­ca­ri ma­te­ri, se­ba­lik­nya, apa yang se­dang di­la­ku­kan me­ru­pa­kan sua­tu ben­tuk gu­gat­an mo­ral. “Nan­ti­nya, sa­ya ha­nya ber­ha­rap He­ru S No­to­ne­go­ro mem­be­li se­buah alat tas­bih se­ni­lai Rp 5.000 un­tuk is­tig­far dan se­buah alat sem­poa se­ni­lai Rp 10.000 un­tuk meng­hi­tung fee yang di­te­ri­ma­nya,” je­las­nya.

Me­nyi­ka­pi hal ter­se­but, Her­man Hu­ta­pea mem­per­si­la­kan ma­sing-ma­sing peng­gu­gat dan ter­gu­gat me­nem­puh ja­lur me­dia­si ter­le­bih da­hu­lu. Hal itu se­suai de­ngan ke­ten­tu­an yang ber­la­ku di per­si­dang­an.

Ter­gu­gat II, Li­ek A Pa­la­li me­nyam­but ba­ik lang­kah yang di­am­bil ma­je­lis ha­kim. Pa­sal­nya, sa­at si­dang per­da­na ka­li ini, tu­rut ter­gu­gat I, Wa­wan ti­dak ha­dir di tem­pat. “Me­mang se­ha­rus­nya di­awali da­ri me­dia­si ter­le­bih da­hu­lu. Sa­ya me­nye­rah­kan se­mua­nya pa­da ja­lan­nya per­si­dang­an nan­ti,” ka­ta­nya. - Oleh : pso

Senin, 10 Januari 2011

Pemkot Solo Mendua

Pem­kot So­lo men­dua
Dimuat di Pos Pembaca SOLOPOS Selasa, 11 Januari 2011

Se­ba­gai war­ga So­lo, sa­ya me­ra­sa ke­ce­wa dan diom­bang-am­bing­kan si­kap Pem­kot, ter­uta­ma Ke­pa­la Di­nas Ta­ta Ru­ang Ko­ta yang men­dua. Pa­da 5 Agus­tus 2010, ka­mi me­wa­kili Ir Ayub Treng­go­no dkk, war­ga Fa­jar In­dah VII, So­lo me­ngi­rim­kan su­rat pe­ri­hal peng­adu­an ten­tang pe­man­fa­at­an ru­mah ting­gal di Fa­jar In­dah un­tuk gu­dang yang nya­ta-nya­ta meng­gang­gu ling­kung­an. Ke­pa­la Di­nas Ta­ta Ru­ang Ko­ta, pa­da su­rat 9 Agus­tus, me­me­rin­tah­kan agar Su­wan­to, pen­du­duk Fa­jar In­dah RT 6/RW VII, Ja­jar, La­we­yan, So­lo un­tuk meng­hen­ti­kan ke­gi­at­an per­gu­dang­an yang ti­dak se­suai izin. Na­mun ka­re­na ti­dak ada tin­dak lan­jut un­tuk me­nu­tup, ke­gi­at­an itu te­rus ber­lan­jut.
Pa­da 7 Sep­tem­ber 2010, ka­mi me­ngi­rim­kan su­rat ke­be­rat­an la­gi dan pa­da 27 Sep­tem­ber 2010 di­ja­wab de­ngan su­rat yang isi­nya meno­le­rir yang ber­sang­kut­an un­tuk mem­bu­at izin. Sa­ya su­dah bo­san meng­adu ter­ma­suk me­nu­lis la­por­an ke Pol­sek La­we­yan ka­re­na ti­dak ada ha­sil.


Mu­ham­mad Tau­fiq SH MH
Jl Ka­wung No 1 So­lo
(Selasa, 11 Januari 2011 )

Mengapa Narkoba Naik?

Dimuat di Harian Joglosemar, Senin 10 Januari 2011

Tak bisa dimungkiri kejahatan narkoba di tanah air sepanjang tahun 2010 naik fantastis bak deret ukur dengan pemidanaannya yang seperti deret hitung. Angka ini didapat sebagaimana mengutip pernyataan dari Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan yang menyebutkan telah menindak 156 kasus penyelundupan narkoba sepanjang tahun 2010.Jumlah tersebut meningkat hampir 100% jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang berjumlah 82 kasus.
Direktur Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementrian Keuangan, Frans Rupang menyatakan, jenis narkotika yang diselundupkan ke Indonesia terbanyak adalah sabu-sabu. Dari semua kasus penindakan, narkotika mengalami kenaikan 100 persen jika dibandingkan tahun 2009. Tahun2009 lalu 82 kasus, sekarang(tahun 2010) 156 kasus. Frans memaparkan, berdasarkan data Ditjen Bea Cukai per 30 Desember 2010,pihaknya telah berhasil mengumpulkan 405.140,08 gram dan 1.030 mililiter narkotika dari berbagai jenis dalam 155 kasus.
Dari jumlah itu total nilai penyelundupan narkotika sepanjang tahun 2010 diperkirakan mencapai angka Rp 600 miliar.Khusus untuk sabu-sabu yang berhasil ditindak sebanyak 251,6 kilogram yang nilainya bisa mencapai sekitar Rp 1,5-2 miliar per kilogrdam.
Meski besar nilai penyelundupan ini tidak bisa dimasukkan sebagai potensi kerugian karena tidak masuk sebagai penerimaan negara. Namun patut disimak dengan jumlah rupiah yang besar itu menunjukkan kepada kita bahwa transaksi narkoba di tanah air bukan turun, justru naik. Sisi lain ini menggambarkan betapa leluasanya pergerakan tata niaga narkoba dan betapa cepatnya jumlah korban. Dari data yang ada jenis narkotika yang paling banyak diselundupkan ke Indonesia adalah sabu yang totalnya seberat 251.693,59 gram dan sabu cair sebanyak 1.030 mililiter. Jika dicermati kenapa sabu? Tentunya selain ia begitu banyak diminati konsumen karena efek fly cepat dan terkesan lebih ” beradab”. Selain itu rendahnya hukuman dan lamanya proses eksekusi turut menjadi daya tarik maraknya penyelundupan narkoba. Sebagai perbandingan Negara Iran dalam seminggu saja tak kurang mengeksekusi lebih dari delapan orang untuk tingkatan penyelundupan obat bius. Sementara di Indonesia kelompok Bali Nine( WN Australia) tak kunjung dieksekusi meski sudah ditangkap sejak 17 April 2010. Malah mantan model Corby mendapat keringanan hukuman menjadi kurang dari 20 tahun meski di tingkat Mahkamah Agung ditambah lima tahun untuk bukti 4,5 kilogram mariyuana. Rangking berikutnya ditempati Amphetamine mencapai 292,5 gram, ekstasi seberat 17.982,37 gram, ephedrine seberat 2.011,6 gram, erimin five seberat 10.748 gram, ganja seberat 3.700 gram, hasish seberat 5.987 gram, heroin seberat 19.263,68 gram, ketamine seberat 96.895,6 gram, dan kokain seberat 203 gram. Dari kasus tersebut jika diamati asal kewarganegaraan, Warga Negara Indonesia ternyata tercatat paling terbanyak menyelundupkan narkotika dengan total tersangka sebanyak 60 orang. Pelaku penyelundupan narkotika terbanyak berikutnya ditempati warga negara Irak sebanyak 27 orang dan Malaysia sebanyak 23 orang. Sisanya adalah negara lain dengan penyelundupan dibawah 10 orang seperti Iran dan China.
Narkoba & Pencucian Uang
Terpisah, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Gories Mere, menyatakan bahwa lembaganya berhasil mengungkap, praktik pencucian uang dalam penyelundupan sabu ke Indonesia. Total aliran dana mencapai sekitar Rp 4 miliar yang mengalir dari pemesan ke bandar besar dan kurir. Modus ini baru kali pertama ditemukan di Indonesia. Gories Mere mengatakan, uang beredar ke bank dan ke tempat penukaran uang yang dilakukan jaringan narkoba India, Nepal, Malaysia dan Indonesia. Tiga orang tersangka, salah satunya berinisial N, ditangkap dan menjalani penyidikan di Direktorat Narkotika Alami BNN. Empat orang lainnya masih masuk daftar pencarian. Gories mengatakan, ini adalah modus baru penyelundupan Narkoba ke Indonesia. Modus kejahatan Narkoba semakin canggih agar semakin mudah lolos dari pemeriksaan petugas jaga di pos-pos transit transportasi dan perbatasan negara.
Deputi Pemberantasan BNN, Tommy Sagiman, mengatakan kasus ini terungkap berdasarkan penyelidikan peredaran narkoba dan penyidikan sejumlah tersangka yang pernah ditangkap. Di mana dimulai dari adanya peredaran kiloan sabu di pasaran. Ketika dilakukan penangkapan tidak kurang dari 4 kilogram sabu senilai Rp 8 miliar diamankan sebagai barang bukti. Tommy menyatakan sejumlah kurir bertugas menerima uang berjumlah miliaran rupiah dari kurir di Jakarta. semula uang itu adalah hasil transaksi separuh pembayaran Narkoba yang diantar ke Indonesia.
Pada kenyataanya dari hasil pemriksaan didapatkan bukti mencengangkan uang mereka berasal dari sisa penjualan narkoba yang disimpan di sebuah bank di Indonesia dan di beberapa negara.
Jika di Indonesia, maka uang ditransfer dari bank luar negeri ke bank di Indonesia. Uang akan dibiarkan dulu berbunga. Ketika kurir sampai di perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia uang kemudian diambil dari Bank dan ditukarkan bebas kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Biasanya banyak TKI yang ingin mengirimkan uang untuk keluarga di kampung. Merekalah incaran para tersangka di Malaysia. Maka tidak mengherankan ada pelaku yang sesungguhnya korban dari jaringan ini adalah para TKI yang bekerja di Malaysia atau Singapura. Dari hasil penukaran uang itu, para tersangka mendapat keuntungan yang berbeda. Dengan modus yang seperti ini ketika tertangkap para tersangka dengan sengaja mengambinghitamkan para TKI. Tentu saja mereka tahu sebab para TKI ini tentu berkeinginan memperoleh nilai tukar rupiah secara cepat. Dan dari proses inilah yang mereka tempuh tanpa sadar risiko apa itu money loundry. Sehingga dengan mudah para tersangka mengetahui nama-nama TKI yang membawa uang rupiah hasil penukaran dengan tersangka.
Kenapa TKI ini gampang dipengaruhi? Birokrasi bank yang tidak mereka pahami yang menyebabkan mereka menerima saja hasil penukaran ini. Fakta yang bisa diungkap bahwa para TKI yang menukarkan uang kepada mereka akan menjadi korban pencurian, bahkan perampokan saat tiba di Indonesia kalau mereka tidak ditangkap polisi. Artinya mereka masuk lubang buaya ke luar masuk mulut harimau. Oleh karena itu mereka merasa terbantu dengan model transaksi seperti ini. Jika polisi cermat pelaku perampokan sesungguhnya adalah anggota atau kaki tangan jaringan narkoba internasional. Oleh karena sifat hukum pidana ini adalah hukum materiil, maka siapa pun yang terlibat meski pada awalnya tidak tahu ia akan diringkus dan kemudian diposisikan sebagai kurir atau malah bandar. Sehingga seringkali terjadi peradilan yang aneh seorang TKI/TKW duduk sebagai pesakitan dan didakwa sebagai kurir narkoba. Meski sebenarnya mereka layak disebut korban ketimbang pelaku sebab dengan penghasilan mereka bertahun-tahun sebagai TKI/TKW mereka tanpa menukarkan uang pun tetap jutawan. (***)


Muhammad Taufiq, SH MH
Pegiat Antinarkoba,
Kandidat Doktor Ilmu Hukum UNS

Senin, 20 Desember 2010

Re­mu­ne­ra­si & pe­ri­la­ku pe­ne­gak hu­kum


Dimuat di Harian Solopos, Sabtu 18/12/2010
Bo­leh ja­di sa­tu bu­lan ke de­pan po­li­si dan ke­lu­ar­ga me­re­ka ber­bu­nga-bu­nga ha­ti. Ha­rap­an me­re­ka un­tuk me­me­ro­leh re­mu­ne­ra­si se­jak ta­hun 2008 se­ba­gai­ma­na yang di­te­ri­ma ha­kim dan pe­ne­gak hu­kum lain ter­ka­bul.

DPR te­lah me­nye­tu­jui per­min­ta­an pe­me­rin­tah un­tuk meng­alo­ka­si­kan da­lam APBN 2011 da­na re­mu­ne­ra­si di ling­kung­an TNI/Pol­ri. Meng­hu­bung­kan pe­ri­la­ku hu­kum apa­rat ne­ga­ra se­per­ti po­li­si,jak­sa dan ha­kim de­ngan re­mu­ne­ra­si ten­tu­lah hal yang me­na­rik.

Re­mu­ne­ra­si yang ber­asal da­ri ba­ha­sa Ing­gris re­mu­ne­ra­tion ber­ar­ti ga­ji atau peng­har­ga­an ba­gi orang yang be­ker­ja. Per­ta­nya­an­nya apa re­le­van­si­nya de­ngan upa­ya pe­ne­ga­kan hu­kum? Dan apa pe­nga­ruh­nya ba­gi pe­ning­kat­an ki­ner­ja? Per­ta­nya­an itu wa­jar di te­ngah kri­sis ke­per­ca­ya­an ke­pa­da in­sti­tu­si pe­ne­gak hu­kum yang di­tun­juk­kan de­ngan ter­bong­kar­nya ja­ring­an ma­ke­lar ka­sus da­lam per­pa­jak­an.

Ju­ga mun­cul­nya ber­ba­gai ka­sus yang me­li­bat­kan ma­ke­lar ka­sus se­ba­gai aki­bat ti­dak pro­fe­sio­nal­nya po­li­si dan jak­sa da­lam me­na­ngani per­ka­ra ko­rup­si. Ter­buk­ti ter­bit­nya SP3 da­ri Ma­bes Pol­ri dan SKPP oleh Ke­jak­sa­an Agung yang akhir­nya me­nuai kon­tro­ver­si. Mes­ki de­mi­ki­an Jak­sa Agung Hen­dar­man Sup­an­ji ka­la itu se­per­ti orang ti­dak ber­do­sa. Alih-alih mem­per­bai­ki ki­ner­ja. Dia jus­tru me­min­ta tam­ba­han ang­gar­an ke­pa­da Ko­mi­si III DPR se­ni­lai Rp 10 tri­li­un un­tuk mem­er­bai­ki fa­si­li­tas jak­sa se­hing­ga ti­dak ter­go­da.

Un­tuk me­ne­li­ti le­bih ja­uh co­ba ki­ta te­lu­su­ri la­hir­nya ber­ba­gai atur­an ter­kait re­mu­ne­ra­si. Se­suai de­ngan UU No 17/2007 ten­tang Ren­ca­na Pem­ba­ngun­an Na­sio­nal Jang­ka Pan­jang 2005-2025 dan Per­atur­an Me­neg PAN No: PER/15/M.PAN/7/2008 ten­tang Pe­do­man Umum Re­for­ma­si Bi­ro­kra­si, ke­bi­jak­an re­mu­ne­ra­si di­pe­run­tuk­an ba­gi se­lu­ruh pe­ga­wai ne­ge­ri di se­lu­ruh lem­ba­ga pe­me­rin­tah­an.

Ber­da­sar­kan ur­gen­si­nya di­ke­lom­pok­an ber­da­sar­kan ska­la pri­o­ri­tas ke da­lam ti­ga ke­lom­pok. Pri­o­ri­tas per­ta­ma ada­lah se­lu­ruh in­stan­si rum­pun pe­ne­gak hu­kum, rum­pun pe­nge­lo­la ke­uang­an ne­ga­ra, rum­pun pe­me­rik­sa dan peng­awas ke­uang­an ne­ga­ra ser­ta lem­ba­ga pe­ner­tib­an apa­ra­tur ne­ga­ra.

Pri­o­ri­tas ke­dua ada­lah ke­men­te­ri­an/lem­ba­ga yang ter­kait de­ngan ke­gi­at­an eko­no­mi, sis­tem pro­duk­si, sum­ber peng­ha­sil pe­ne­ri­ma­an ne­ga­ra dan unit or­ga­ni­sa­si yang me­la­ya­ni ma­sya­ra­kat se­ca­ra lang­sung ter­ma­suk Pem­da. Pri­o­ri­tas ke­ti­ga ada­lah se­lu­ruh ke­men­te­ri­an/lem­ba­ga yang ti­dak ter­ma­suk pri­o­ri­tas per­ta­ma dan ke­dua.

De­ngan de­mi­ki­an se­sung­guh­nya re­mu­ne­ra­si yang di­te­ri­ma pe­ne­gak hu­kum se­per­ti ha­kim As­nun Ke­tua Peng­adil­an Ne­ge­ri Ta­nge­rang yang ke­mu­di­an mem­vo­nis be­bas Ga­yus pa­da tang­gal 12 Ma­ret 2010 bu­kan­lah kon­tro­ver­si ba­ru. Se­bab, mu­lai 1 Ap­ril 2008 kon­tro­ver­si itu su­dah ter­ja­di. Sa­at itu, tun­jang­an di ling­kung­an Mah­ka­mah Agung dan peng­adil­an ting­gi na­ik sa­ngat fan­tas­tis. Ang­ka ke­na­ik­an­nya bah­kan men­ca­pai 300 per­sen.

Da­lam Per­pres No 19/2008 ten­tang Ki­ner­ja Ha­kim dan Pe­ga­wai Ne­ge­ri di Ling­kung­an MA dan Per­adil­an di Ba­wah­nya di­se­but­kan be­sar­an tun­jang­an un­tuk ke­tua MA Rp 31,1 ju­ta dan wa­kil ke­tua MA Rp 25,8 ju­ta. Se­men­ta­ra un­tuk ke­tua peng­adil­an ting­gi Rp 13 ju­ta, ha­kim bia­sa peng­adil­an ting­gi Rp 10 ju­ta, dan ha­kim peng­adil­an ting­gi ke­las II Rp 4,2 ju­ta.

Da­lam hal ini, yang per­lu di­cer­ma­ti, ke­na­ik­an ter­se­but ti­dak ter­ma­suk ga­ji po­kok. Per­pres kon­tro­ver­si­al itu ti­dak akan per­nah bi­sa diak­ses ma­sya­ra­kat ka­re­na se­la­ma ini pe­nyu­sun­an dan pub­li­ka­si­nya cen­de­rung ter­tu­tup. Oleh ka­re­na itu, wa­jar ka­lau be­be­ra­pa pi­hak, ter­uta­ma ka­lang­an pe­gi­at an­ti­ko­rup­si, me­ni­lai ke­na­ik­an tun­jang­an ter­se­but sa­ngat ber­le­bih­an.

Apa yang di­tu­ang­kan da­lam Per­pres itu se­nya­ta­nya me­mang ti­dak kon­du­sif dan ter­ke­san meng­abai­kan ke­ten­tu­an di atas­nya. Bu­kan ka­re­na di­sam­pai­kan da­lam wak­tu yang ti­dak te­pat, yak­ni di sa­at kri­sis ba­han po­kok me­lan­da Ta­nah Air, me­la­in­kan ju­ga si­fat Per­pres yang ti­dak meng­ikuti ke­ten­tu­an UU No 17/2003 ten­tang Ke­uang­an Ne­ga­ra.

Ber­le­bih­an

Da­lam Pa­sal 3 ayat (1) UU Ke­uang­an Ne­ga­ra je­las di­se­but­kan ke­uang­an ne­ga­ra di­ke­lo­la se­ca­ra ter­tib, ta­at pa­da per­atur­an per­un­dang-un­dang­an, efi­si­en, eko­no­mis, efek­tif, trans­pa­ran dan ber­tang­gung ja­wab de­ngan me­mer­ha­ti­kan ra­sa ke­adil­an dan ke­pa­tut­an. Di ne­ga­ra-ne­ga­ra yang su­dah ma­ju se­per­ti Je­pang dan Chi­na, re­mu­ne­ra­si yang ber­ar­ti tun­jang­an atau im­bal­an su­dah men­ja­di hal yang bia­sa ba­ik di kan­tor pe­me­rin­tah mau­pun swas­ta.

Alas­an re­mu­ne­ra­si ten­tu ha­rus ber­da­sar per­tim­bang­an agar me­re­ka be­ker­ja le­bih efi­si­en dan mak­si­mal se­hing­ga mem­be­ri­kan out­put yang se­ta­ra pu­la. Pa­da gi­lir­an­nya, itu akan men­ce­gah pe­ri­la­ku ko­rup­si atau pe­nyim­pang­an lain­nya. In­ti­nya, tu­ju­an re­mu­ne­ra­si ada­lah mem­bu­at se­tiap pe­ga­wai ber­has­rat ker­ja ting­gi ka­re­na ya­kin se­ma­kin efi­si­en dan pro­fe­sio­nal, dia akan mem­per­oleh im­bal­an yang ting­gi pu­la.

Da­lam kon­teks pe­me­rin­tah­an SBY, re­mu­ne­ra­si di ling­kung­an MA dan PT—dan se­ka­rang ke­po­li­si­an—ten­tu ber­tu­ju­an me­wu­jud­kan re­for­ma­si bi­ro­kra­si de­ngan sis­tem peng­ga­ji­an je­las dan ter­bu­ka. Pa­da gi­lir­an­nya itu meng­hin­dar­kan pa­ra pe­ne­gak hu­kum da­ri ber­pe­ri­la­ku atau ber­buat me­nyim­pang. Yang men­ja­di per­ta­nya­an, be­nar­kah pa­ra pe­ne­gak hu­kum ki­ta te­lah ber­tin­dak dan be­ker­ja de­ngan has­rat yang ting­gi da­lam me­nun­tas­kan ber­ba­gai ka­sus yang me­ru­gi­kan ne­ga­ra be­la­kang­an ini se­hing­ga la­yak mem­per­oleh im­bal­an yang pan­tas pu­la?

Se­iring de­ngan ma­sih ba­nyak­nya pe­na­ngan­an per­ka­ra yang da­lam pan­dang­an pe­mer­ha­ti hu­kum di­ni­lai ti­dak me­me­nuhi ra­sa ke­adil­an ma­sya­ra­kat dan be­gi­tu ting­gi­nya per­ka­ra yang be­lum ter­se­le­sa­i­kan di MA, ten­tu re­mu­ne­ra­si itu meng­un­dang se­tum­puk kon­tro­ver­si. Apa­kah itu bu­kan se­buah dis­ori­en­ta­si pe­ma­ham­an re­for­ma­si bi­ro­kra­si, yang ber­ar­ti le­bih me­nye­der­ha­na­kan pro­ses yang ber­te­le-te­le pa­da bi­ro­kra­si hu­kum de­ngan out­put ke­adil­an yang ba­ik ka­re­na men­ja­di ce­pat dan mu­rah.

Da­lam pan­dang­an pe­ne­gak hu­kum, re­mu­ne­ra­si ter­se­but ten­tu ti­dak sa­lah ka­re­na pa­ra­me­ter bi­ro­krat hu­kum se­ka­rang ke­se­jah­te­ra­an itu di­ni­lai da­ri se­be­ra­pa be­sar peng­ha­sil­an se­o­rang se­hing­ga dia hi­dup la­yak di te­ngah-te­ngah ma­sya­ra­kat yang ser­ba mengu­kur ke­ber­ha­sil­an se­se­o­rang da­ri ka­ca­ ma­ta ke­suk­ses­an ma­te­ri.

Da­lam ka­sus man­tan Jak­sa Agung Mu­da Ke­mas Ya­hya—yang di­du­ga me­mi­liki ru­mah ber­ni­lai mi­li­ar­an ru­pi­ah—un­tuk syu­kur­an na­ik pang­kat sa­ja meng­ha­bis­kan ra­tus­an ju­ta ru­pi­ah, pa­da­hal dia cu­ma pu­nya ga­ji Rp 7 ju­ta (Tem­po, 24 Ma­ret 2008). Ka­re­na itu, ter­ja­wab su­dah bah­wa re­mu­ne­ra­si di ling­kung­an bi­ro­kra­si pe­ne­gak hu­kum—ter­ma­suk po­li­si sa­at ini—ti­dak iden­tik de­ngan pe­ning­kat­an mu­tu ke­adil­an.

Ber­da­sar­kan PP No 21/2009 ten­tang Ta­bel Ga­ji Ang­go­ta Pol­ri, te­ren­dah Go­long­an I Tam­ta­ma Ba­yang­ka­ra II se­be­sar Rp 1.090.000 dan per­wi­ra ting­gi go­long­an IV Rp3.525.000. De­ngan ga­ji yang ren­dah, toh dia mam­pu mem­be­li dan me­mi­liki ba­rang-ba­rang me­wah. Bu­kan ha­nya itu. Me­re­ka ma­lah bi­sa me­nye­ko­lah­kan anak ke lu­ar ne­ge­ri.

Mes­ki te­lah me­ne­ri­ma re­mu­ne­ra­si, da­lam ek­sa­mi­na­si BLBI yang mun­cul jus­tru ke­sim­pul­an tin­dak­an kon­glo­me­rat yang me­ru­gi­kan ne­ga­ra tri­li­un­an ru­pi­ah itu bu­kan tin­dak pi­da­na ko­rup­si. Ar­ti­nya, ka­lau mo­del re­mu­ne­ra­si itu di­ber­la­ku­kan di In­do­ne­sia dan di­awali da­ri ga­ji ha­kim, ke­mu­di­an di­ber­la­ku­kan di ke­po­li­si­an dan ke­jak­sa­an, se­sung­guh­nya mo­del itu ha­nya ber­la­ku ba­gi pem­be­ran­tas­an ko­rup­si ke­las te­ri.

Se­ma­cam Ha­kim PN Ja­kar­ta Se­la­tan Her­man Ale­si­ton­di yang di­hu­kum ka­re­na me­me­ras sak­si Jams­os­tek dan AKP Su­par­man pe­nyi­dik KPK yang di­hu­kum enam ta­hun ka­re­na me­me­ras sak­si, be­gi­tu pu­la Ha­kim As­nun eks Ke­tua PN Ta­nge­rang. Atau ti­dak be­da de­ngan se­o­rang jak­sa Urip Tri Gu­na­wan yang di­tang­kap ka­re­na di­du­ga me­ne­ri­ma uang ha­ram da­ri Ar­tha­ly­ta.Se­men­ta­ra per­ka­ra po­kok­nya, ka­sus ko­rup­si tri­li­un­an ru­pi­ah yang di­la­ku­kan Syam­sul Nur­sa­lim, di­ang­gap su­dah se­le­sai.

Ke­tim­pang­an so­si­al

Me­mang ti­dak bi­sa di­sa­lah­kan ji­ka mun­cul per­ta­nya­an ada apa di ba­lik re­mu­ne­ra­si yang fan­tas­tis itu? Se­bab, pem­be­ran­tas­an ko­rup­si da­ri wak­tu ke wak­tu ha­nya se­ba­tas pa­da re­to­ri­ka. Di si­si lain, ter­ja­di pe­man­dang­an yang sa­ngat ti­dak me­nye­nang­kan. Yak­ni, ba­nyak orang mis­kin ti­dak mam­pu me­nye­ko­lah­kan anak. Bah­kan, ada yang ma­ti ke­la­par­an ka­re­na mem­be­li be­ras atau na­si aking se­ka­li pun me­re­ka ti­dak mam­pu. Iro­nis me­mang, Per­pres ten­tang re­mu­ne­ra­si di lingkung­an MA dan ha­kim ting­gi ser­ta di ling­kung­an ke­po­li­si­an mun­cul jus­tru pa­da sa­at ke­tim­pang­an so­si­al ter­ja­di di ma­na-ma­na.

Apa­kah ki­ta me­mang te­lah ma­ti ra­sa atas se­mua ke­tim­pang­an itu? Per­pres No 19/2008 dan Per­pres ten­tang Re­mu­ne­ra­si Ba­gi Pol­ri akan sa­ngat ber­ar­ti bi­la te­lah di­ba­rengi de­ngan pe­ning­kat­an ki­ner­ja ha­kim yang di­tan­dai de­ngan out­put ke­adil­an yang ja­uh le­bih ba­ik. Mi­sal­nya, ko­rup­tor BLBI di­hu­kum ma­ti atau di­hu­kum seu­mur hi­dup. Dan me­nye­ret pem­ba­gi tra­vel­ler check pe­mi­lih­an Mi­ran­da Go­el­tom. Bu­kan se­ka­dar me­me­rik­sa dan me­na­han ang­go­ta DPR, ka­re­na da­lam ka­sus su­ap pe­ne­ri­ma dan pem­be­ri sa­ma-sa­ma di­hu­kum. - Oleh : Mu­ham­mad Tau­fiq Ke­tua Pe­ra­di So­lo

Selasa, 14 Desember 2010

“ Judicial Corruption dan Penegak Hukum Sakit Kembung”


Dimuat di Harian Seputar Indonesia, Sabtu 11 Desember 2010

Oleh : Muhammad Taufiq*



Setuju atau tidak praktek mafia peradilan adalah sebagai biang kegagalan memfungsikan peradilan sebagai sarana mencari keadilan. Begitu luas dan mengguritanya tindakan mafia ini terlihat dari begitu terkenalnya istilah mafia peradilan itu sendiri. Bahkan SBY pun ikut-ikutan latah membentuk Satgas Mafia Hukum. Meski belakangan dinilai Satgas Mafia Hukum hanya sekedar melindungi kepentingan presiden. Seiring maraknya predikat markus banyak nama yang kemudian muncul seperti Arthalyta Suryani, Anggodo Widjojo, Sahril Djohan,Ary Muladi dll. Mereka telah telah menjadi ikon tindakan menyimpang di peradilan walaupun orang-orang mengartikan atau menanggapi perbuatan mereka dengan cara dan istilah yang beragam, namun kesimpulannya sama mereka adalah perusak keadilan. NGO pegiat anti korupsi mengartikan mafia peradilan sebagai perbuatan yang bersifat sistematis, konspiratif, kolektif yang dilakukan oleh aktor tertentu yang mempengaruhi proses penegakan hukum dengan demikian mafia ini berperan dalam pelanggaran hak asasi. Bagir Manan saat menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung menyebutnya sebagai tingkah laku yang tidak terpuji. Meskipun Bagir pernah kesandung dalam kasus sogok Probosutedjo yang melibatkan mantan hakim Harini Indra Wiyoso. Perbuatan tersebut oleh Bagir diistilahkan sebagai criminal behaviour.( Kompas : 20 Mei 2010)

Tanggapan masyarakat terhadap tingkat korupsi peradilan juga dapat dilihat dari hasil survey Transparency International terhadap 1000 responden masyarakat Indonesia pada pertengahan tahun 2010. Bersama-sama dengan legislatif dan polisi, peradilan adalah lembaga – lembaga yang dianggap paling korup dengan nilai indeks 4,2. Survey ini menggunakan skala 1-5 dimana semakin besar nilai indeksnya, maka makin korup lembaga tersebut.( ICW,2010). Demikian pula sebaliknya, lembaga yang memiliki indeks terkecil semakin pula tingkat korupsinya dalam persepsi masyarakat. Data ini masih ditambah dengan hasil survey yang mengatakan seratus persen inisiatif suap di lembaga peradilan berasal dari pejabat atau pegawai pengadilan( Asfinawati: 2008).

Birokrasi hukum yang masuk angin

Selain tindakan langsung untuk mempengaruhi suatu kasus, judicial corruption yang telah merasuk ke sistem dan menjadi kultur penyebab lahirnya sikap diskriminatif pada aparat peradilan. Terbiasa melayani dengan meminta bayaran tambahan berupa saweran yang nota bene masuk pungli membuat mereka tidak serius melayani atau melayani dengan setengah hati masyarakat yang tidak mampu ,karena tidak mau dan tidak bisa memberikan uang saweran.. Ujung tombak pertama adalah adanya laporan-laporan masyarakat kepada pihak kepolisian yang tidak segera ditindaklanjuti atau dijalankan dengan masuk angin. Di Tangerang seorang buruh yang dianiaya Kepala Personalia atau di Sukoharjo seorang pekerja perempuan hamil di permalukan di tempat kerja oleh Managernya warga negara Korea. Ketika membuat laporan polisi alih-alih membantu, pihak kepolisian justru tidak berpihak kepada korban dan cenderung meminta berdamai, di mana kasus-kasus itu akhirnya tidak berlanjut.

Keberadaan Peradilan sebagai sebuah mekanisme, sejatinya adalah sarana menyalurkan berbagai kepentingan secara adil dan sama rata atau sering disebut dengan azas equality before the law yang berarti juga demokratis. Tidak bisa dibayangkan prospek perilaku hukum masyarakat ke depan bila masyarakat diajari bahwa sistem yang seharusnya demokratis ternyata menjadi diskrimansi dan alat penindas bagi yang miskin. Dalam kasus Gayus yang terang bernderang atau Nunun dan Miranda Goeltom yang sudah “ memakan” banyak korban anggota DPR-RI ,polisi dan KPK terkesan masuk angin. Pada kondisi demikian masyarakat atau kelompok yang tidak memiliki kepentingan langsung akan merasa apatis dan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap hukum itu sendiri terutama pengadilan. Sebagai salah satu representasi negara, peradilan yang buruk dapat menimbulkan ketidakpercayaan terhadap negara itu sendiri. Rakyat dibuat tidak percaya dengan sistem, mekanisme yang dibuat negara dan akhirnya ketidakpercayaan terhadap negara itu sendiri.

Dalam tataran ini, mereka yang tidak memiliki kepentingan mungkin cukup bersikap apatis, tetapi berlainan dengan mereka yang memiliki kebutuhan-kebutuhan akan peradilan (upaya pemulihan). Karena itu tidak perlu heran, kegagalan peradilan untuk bersikap adil akan memunculkan upaya-upaya alternatif yang bukan tidak mungkin salah satunya adalah kekerasan. Di banyak tempat pengadilan sudah kehilangan fungsi sebagai benteng keadilan,terbukti ada terdakwa dihakimi massa sampai mati di depan sidang. Ada hakim di lempar sepatu dan yang paling anarkis kantor pengadilan dibakar massa. Jika demikian maka ada pertanyaan penting, untuk siapa sebenarnya upaya pemberatasan mafia hukum termasuk mafia peradilan? Sebagai jalan ke luar bahwa segala hal yang berkaitan dengan pemberantasan mafia hukum termasuk di dalamnya peradilan. Tujuan akhirnya tak lain dan tak bukan adalah membuat murah ongkos atau beaya mencari keadilan. Artinya mata rantai birokrasi keadilan yang panjang dan bertele-tele harus segera diurai sehingga tidak ada perkara yang masuk angin. Sebab dari survey indek kebutuhan masyarakat maka beaya hidup dikatakan murah jika keadilan jika mudah di dapat. Artinya segala transaksi internasional yang berhubungan dengan ekonomi kunci utamanya adalah kepercayaan kepada hukum. Praktek Hukum yang baik akan membuat ongkos hidup murah karena semua urusan teraudit penyelesaiannya.


Surakarta, 8 Desember 2010

Muhammad Taufiq, SH MH, advokat, Kandidat Doktor Ilmu Hukum UNS.

Senin, 13 Desember 2010

Sepakbola Indonesia, Miskin Prestasi atau Naturalisasi ?



Perkembangan Sepakbola Indonesia saat ini sangat ironis lantaran prestasinya yang semakin menurun.

Banyak nya perhelatan Sepakbola akbar di Tanah Air tak mampu menciptakan

pertandingan yang berkualitas. Sebaliknya, sejumlah pertandingan justru sering diwarnai dengan aksi kerusuhan dan masalah intern klub.
Keadaan ini membuat sejumlah pengamat dan pemerhati sepakbola Indonesia, khususnya Kota Solo ikut angkat bicara untuk mengkritisi hal tersebut. Dilihat dari kondisi Timnas Indonesia, ada beberapa kesimpulan mengenai penyebab kegagalan prestasi tersebut. Antara lain, para pemain, perangkat pertandingan dan PSSI Pusat yang kurang mampu menjaga kedisiplinan.
“Ketidakdisiplinan itu sering terjadi seperti penetapan jadwal pertandingan dan tim yang berubah-ubah, penetapan divisi-divisi untuk Liga Indonesia yang tidak dapat dipastikan. Dari hal itu semakin menunjukkan kinerja PSSI yang tidak profesional,” ujar Chaidir Ramli, salah seorang Pembina Sekolah Sepakbola Solo, Jumat (22/10).
Selain itu, para pemain timnas memiliki karakter yang keras dan cepat puas atas prestasi kecil yang sedang diraihnya membuat pemain sulit mengembangkan kemampuannya.
Chaidir mengatakan dengan banyaknya pecinta sepakbola di Indonesia dari kalangan rakyat jelata, pengusaha, hingga elite politik seharusnya sepakbola mengalami perubahan melalui proses naturalisasi.
Ketua Persatuan Sepakbola Peradi Solo, Muhammad Taufiq bahkan menyampaikan pendapat yang hampir sama. Menurutnya, prestasi kecil yang diraih oleh timnas Indonesia sangat tidak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan PSSI dan pemerintahan Indonesia. Pasalnya, sepakbola Indonesia setidaknya telah menelan sebanyak 15 persen dari anggaran APBD. “Sangat ironis sekali, anggaran sebesar itu tidak diimbangi dengan hasil prestasi yang baik. Bahkan, menurut catatan FIFA menunjukkan sepakbola Indonesia menempati peringkat ke-151 sedunia. Peringkat ini masih sangat jauh dari harapan masyarakat Indonesia dan para pecinta sepakbola,” imbuh Taufiq.