WELCOME TO MUHAMMAD TAUFIQ'S BLOG, THANKS FOR YOUR VISIT

Senin, 04 April 2011

Guess, Matahari Dept Store

Surat Pembaca, KOMPAS

Pelayanan Guess Buruk
Jumat, 1 April 2011 | 10:27 WIB

Tanggal 22 Mei 2010 silam saya membeli arloji Guess Type Sport Class di Matahari Dept. Store Solo Square. Sekitar bulan Juli Strap Karet (gelang arloji) putus. Baru sekitar September 2010 saya ke counter minta ganti Strap baru (karena masih garansi) dijawab secara lisan “satu bulan Pak nanti dikabari”.

Karena tidak ada kabar, Oktober saya datang ke counter lagi. Kali ini ditanya mana surat pembelian ? Saya pulang, persis tanggal 24 Oktober 2010 saya minta dibuatkan tanda terima resmi. Saat itu diberitahu 4 bulan order karena harus ke luar negeri/ Swiss pesannya. Saya pun percaya saja.

Namun hingga dimuatnya surat pembaca ini (sudah lima bulan) belum sekalipun saya dihubungi tentang kejelasan arloji Guess saya. Nasihat saya jangan beli arloji mahal di Matahari Solo Square, repot jika rusak dan yang pasti pelayanan buruk.


MUHAMMAD TAUFIQ
Jl. Kawung No. 1 Sondakan, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah
Surakarta

Rabu, 30 Maret 2011

Pelayanan Guess buruk

PelSayanan Guess buruk
POS PEMBACA SOLOPOS,
Kamis, 31 Maret 2011


Pada 22 Mei 2010, saya membeli arloji Guess tipe sport class di Matahari Dept Store Solo Square. Sekitar Juli, strap karet (gelang arloji) putus. Baru sekitar September 2010 saya ke counter minta ganti strap baru (karena masih garansi) dijawab secara lisan, “Satu bulan Pak, nanti dikabari.”
Karena tidak ada kabar, Oktober, saya datang ke counter lagi. Kali ini ditanya mana surat pembelian? Saya pulang, persis pada 24 Oktober 2010, saya minta dibuatkan tanda terima resmi. Saat itu diberi tahu empat bulan order karena pesannya harus ke Swiss. Saya pun percaya saja. Namun, hingga dimuatnya surat pembaca ini (sudah lima bulan), belum sekalipun saya dihubungi tentang kejelasan arloji Guess saya. Nasihat saya, jangan beli arloji mahal di Matahari Solo Square, repot jika rusak dan yang pasti pelayanan buruk.

Muhammad Taufiq SH MH
Jl Kawung No 1, Sondakan, Laweyan, Solo
(Kamis, 31 Maret 2011 )

Selasa, 08 Maret 2011

Walikota Terancam Dilaporkan ke Polisi


Selasa, 08/03/2011

LAWEYAN—Walikota Solo Joko Widodo (Jokowi) dan sejumlah pengusaha, terancam dilaporkan ke polisi, terkait alih fungsi fasilitas publik di Kota Solo yang marak dijadikan lahan parkir. Pengamat hukum sekaligus Pengacara, M Taufiq, siap melaporkan Jokowi, karena somasi yang dilayangkan sebelumnya dianggap tidak diindahkan.
Taufiq mengatakan, dia sebagai warga Solo dan mewakili masyarakat Solo lainnya meminta agar fungsi jalur lambat, trotoar dan fasilitas umum lain dikembalikan sebagaimana fungsinya.
Menurutnya, terkait penyalahgunaan fasilitas umum itu, dia telah menyomasi bahkan bertemu Walikota pada Januari lalu. ”Tetapi somasi tersebut tidak diindahkan, sehingga fasilitas publik sekarang semakin sedikit, terlebih bagi pejalan kaki,” kata Taufiq, Minggu (6/3).
Taufiq mencontohkan, sejumlah lokasi yang area publiknya berkurang karena dijadikan lahan parkir, di antaranya, depan Cafe Diamond dan Solo Centre Point. ”Tindakan itu, menurut kami telah melanggar Pasal 170 KUHP dan dapat dipidana hukuman maksimal lima tahun. Jika tidak segera ditindak, maka MT&P Law Firm akan menempuh jalur hukum, termasuk melaporkan pemiliknya ke Polisi,” ujarnya.
Menanggapi ancaman pelaporan ke polisi itu, Jokowi, menyatakan siap menerima berbagai gugatan yang berisi kritik yang membangun untuk Kota Solo. Jokowi berpendapat, pihaknya selalu terbuka pada semua kritik. Namun, dia membantah, jika tidak menanggapi somasi yang dilayangkan Taufiq.
Tindak lanjut dari somasi itu, Jokowi mengaku sudah melayangkan surat peringatan ke pemilik usaha yang memanfaatkan lahan publik sebagai tempat parkir atau kepentingan lain. ”Sudah, saya sudah berupaya untuk mengembalikan fungsi lahan publik itu. Surat peringatan sudah dilayangkan,” ujarnya, kepada wartawan di Loji Gandrung, Senin (7/3).
Menurutnya, reaksi beragam dia terima dari berbagai pelaku usaha itu. Beberapa di antaranya, minta penangguhan waktu untuk menyediakan tempat parkir.
Jokowi, bahkan akan memberikan toleransi ke sejumlah pengusaha yang meminta waktu untuk mengembalikan fungsi area publik. ”Ya kita beri toleransilah. Mereka minta waktu kita berikan sesuai dengan permintaannya,” katanya.

Aris Setyo Nugroho | Tri Sulistiyani

Rabu, 02 Maret 2011

PLAGIARISME PEJABAT TINGGI

Kompas, 3 Maret 2011

Kisah Memalukan dari Jerman


Kursi yang sebelumnya ditempati Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor zu Guttenberg kosong sebelum rapat mingguan kabinet Jerman di Berlin, Rabu (2/3). Zu Guttenberg mundur sehari sebelumnya karena skandal plagiarisme disertasi doktoralnya.



Kasus dugaan plagiarisme yang melibatkan seorang guru besar di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, tahun lalu, begitu mempermalukan dunia pendidikan tinggi Indonesia. Tak terbayangkan kasus seperti itu bisa terjadi di negara maju, kampiun ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti Jerman.

Namun, nyatanya, negara yang punya sejarah panjang tradisi ilmiah dan standar akademis sangat tinggi itu justru tersandung skandal plagiarisme yang jauh lebih memalukan.

Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor zu Guttenberg resmi mengundurkan diri, Selasa (1/3), setelah ketahuan disertasi doktoralnya ternyata hasil menjiplak. ”Ini adalah langkah paling menyakitkan dalam hidup saya,” tutur Zu Guttenberg, yang juga mundur dari posisinya sebagai anggota parlemen Jerman.

Ia sebelumnya selalu membantah tuduhan tersebut dan bahkan pada 18 Februari menantang para penuduhnya dengan secara sukarela melepas gelar doktornya untuk sementara sampai tuduhan tersebut terbukti.

Namun, akhirnya kampus tempat ia meraih gelar doktor, Universitas Bayreuth, benar-benar mencopot gelar doktornya, 24 Februari. Menurut pihak universitas, Zu Guttenberg telah ”melanggar tugas-tugas ilmiah” hingga tingkat yang tak bisa diabaikan lagi.

Presiden Universitas Bayreuth Ruediger Bormann menyebut disertasi Zu Guttenberg bukan hasil kerja ilmiah yang benar. Sementara profesor pembimbingnya, Oliver Lepsius, mengaku ”telah ditunggangi seorang penipu”.

Kasus ini muncul setelah seorang profesor ilmu hukum, yang dekat dengan kelompok oposisi di Jerman, menyempatkan membaca secara terinci disertasi setebal 475 halaman itu. Profesor itu menemukan bahwa Zu Guttenberg banyak mengutip hasil penelitian orang lain tanpa menyebutkan sumbernya.

Begitu kasus ini muncul ke permukaan, 16 Februari lalu, para aktivis internet langsung membuat laman kolaborasi (wiki), yang memungkinkan semua orang secara bersama-sama mengecek disertasi berjudul Konstitusi dan Traktat Konstitusional: Perkembangan Konstitusional di Amerika Serikat dan Uni Eropa itu. Hasilnya, sekitar dua pertiga disertasi itu terbukti merupakan hasil copy and paste tanpa atribusi.

Zu Guttenberg mengajukan disertasi tersebut pada 2007 atau lima tahun setelah ia menjadi anggota legislatif dari Partai Uni Sosial Kristen (CSU), yakni partai pendukung Uni Demokrat Kristen (CDU), yang dipimpin Angela Merkel.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Zu Guttenberg mengakui telah berbuat kesalahan besar, tetapi tetap membantah bahwa ia sengaja melakukan itu untuk menipu siapa pun.

Kasus Zu Guttenberg sungguh mengejutkan. Meski baru berusia 39 tahun, pria kelahiran Muenchen itu adalah salah satu politikus populer di Jerman.

Bintangnya bersinar terang sejak ia diangkat sebagai Menteri Perekonomian dalam kabinet Kanselir Angela Merkel, 2009. Ia kemudian dipindah ke pos Menteri Pertahanan setelah pemilu dan dikenal dengan kebijakan perampingan anggaran pertahanan Jerman.

Ia disenangi rakyat Jerman karena tampil sebagai pejabat yang berbicara lugas dan mengutamakan kerja daripada banyak omong. Bahkan, setelah kasus plagiarisme ini mencuat, sebuah jajak pendapat menyebut 73 persen rakyat Jerman senang dengan kinerja Zu Guttenberg.

Ia sangat dipercaya Merkel dan bahkan digadang-gadang akan menjadi penerusnya sebagai Kanselir Jerman pada masa depan. Merkel pun terus membela Zu Guttenberg saat kasus ini memanas dua pekan terakhir. ”Saya menunjuk dia sebagai menteri pertahanan, bukan sebagai asisten riset,” ujar Merkel tentang skandal akademik ini.

Selain itu, Zu Guttenberg berasal dari keluarga bangsawan Franconian, yang sangat terhormat dan tinggal di sebuah kastil di daerah Bavaria, Jerman. Pria bergelar baron itu bernama lengkap Karl Theodor Maria Nikolaus Johann Jacob Philipp Franz Joseph Sylvester Freiherr von und zu Guttenberg. Ia adalah keturunan Kaisar Leopold II (1747-1792) dan kakek moyangnya bisa ditelusuri hingga abad ke-12.

Istrinya, Stephanie, juga seorang bangsawan keturunan kanselir pertama Jerman, Otto von Bismarck (1815-1898).

Semoga tidak ada pejabat tinggi atau orang terhormat di Indonesia yang terjangkit plagiarisme seperti ini. (AP/AFP/Reuters/ BBC.CO.UK/DHF)

Senin, 28 Februari 2011

Mengapa Ada Pelajar Tega Membunuh?

Oleh : Muhammad Taufiq *

Belum sebulan kita bicara tentang kenakalan atau kejahatan di kalangan remaja, muncul lagi berita tentang terbunuhnya seorang siswa akibat perkelahian pelajar. Siswa itu bernama Andi Wibowo ( 15), pelajar SMA Widya Wacana Solo. Yang meninggal dikroyok pelajar lain, dengan 17 tusukan senjata tajam.

Meninggalnya Andi merupakan bukti yang jelas bahwa kita tidak lagi memandang perkelahian pelajar sebagai gejala kenakalan remaja yang biasa. Melainkan sudah merupakan suatu kejahatan.. Dan apakah tingkat kejahatanitu haruslah diterima sebagai satu kenyataan. Apa boleh buat, harus dipahami dan diterima sebagai realita?.

Tetapi bagaimana? Bisakah kita akan memahami sebuah kesadisan? Lebih-lebih, bila kesadisan itu terjadi atau dilakukan kalangan pelajar yang nota bene darah daging kita sendiri, karena mereka anak-anak kita sendiri?

Di sinilah inti persoalannya. Pertanyaan ini akan disusul dengan pertanyan –pertanyaan berikutnya yang lebih mendasar. Misalnya, mengapa kita mempunyai generasi muda yang dihinggapi jiwa sadisme, memiliki nafsu bangga menciderai bahkan membunuh sekalipun temannya sendiri?. Apakah anak-anak kita, barangkali, memang tengah depresi berat akibat beban sosial tertentu?. Jika benar itu persoalannya, bagaimana akar kekerasan itu bisa dijelaskan.

Perkelahiran pelajar yang sekarang kita alami tidak hanya terjadi di Jakarta saja. Juga di kota-kota yang tingkat urbanisasinya cukup tinggi: Makasar, Papua, Semarang, Medan, Bandung, Surabaya, bahkan juga ke Solo misalnya, sebagai reaksi dari gejala urban, anak-anak itu seolah-olah berkata bahwa kota-kota besar tidak memberikan tempat lagi kepada mereka, tidak memberikan space social lagi kepada mereka. Apalagi bagi mereka yang tinggal di pemukiman-pemukiman padat dan kumuh.

Lingkungan sosial di pemukiman padat, yang begitu sumpek, bagaimana pun mempengaruhi sikap kejiwaan seseorang, dan lebih-lebih bila orang itu remaja. Belum lagi tantangan mengatasi kesulitan hidup yang begitu keras, seperti mahalnya ongkos sekolah meski ada program SPP gratis. Persaingan ”kemewahan ”yang bisa didapat secara isntan bisa membentuk cara berpikir dan bertindak yang mudah beringas. Inilah salah satu sebab mengapa remaja atau pelajar ini bisa berubah beringas atau jahat dalam waktu sekejap.

Akar persoalannya adalah, kota-kota besar kita sebelumnya tidak pernah dirancang secara humanis, dalam arti memberi tempat kepada naluri warga kotanya untuk mengekspresi tindakan-tindakan manusiawi mereka. Dalam pemukiman-pemukiman kita sangat sulit dijumpai space yang memberi kesempatan warga kota untuk saling mengenal, memahami satu sama lain, apalagi untuk bisa santai dan bercanda. Banyak jabatan politik seperti walikota/bupati atau gubernur diduduki orang-orang berduit yang dalam cara pandang dan sikap melihat sesuatu kemajuan kota dari ukuran bangunan yang bernilai ekonomis.

Mengapa di kota-kota besar geng-geng dan remaja beringas berkembang pesat. Jakarta, misalnya, tempat-tempat rekreasinya memang cukup. Tapi itu bukan space sosial yang kita maksudkan sebagai tempat bertemu. Sehingga, sebenarnya tidak sedikit pelajar kita yang menjumpai hidup mereka sebagai suatu rutinitas : keluar rumah yang sumpek di pagi hari, dan pergi ke sekolah yang mungkin juga dengan fasilitas yang sumpek alias pas pasan, yang hampir tak menyediakan kemungkinan kegiatan rekreatif sama sekali.

Gambaran kesumpekan rekreatif itulah,agaknya,yang dapat menjelaskan mengapa sebagian perkelahian pelajar itu dilakukan oleh anak-anak sekolah teknik/kejuruan,yakni mereka yang umumnya berasal dari lingkungan yang nuansa-nuansa reaktifnya sebenarnya sangat kurang dan dari suatu lapisan yang juga memendam perasaan-perasaan tambahan akibat kontras-kontras sosial dengan lingkungannya. Analisis itu pun akhirnya gugur,misalnya bagaimana dengan perkelahian di sekolah-sekolah menengah elit yang non kejuruan yang dihuni anak-anak golongan borju?. Tentu saja mereka bukan dari pemukiman yang berdesak-desak bahkan sebagian dari lingkungan sosial yang kelewat ekslusif.Apakah apartemen dan rumah-rumah yang indah itu kenyatannya sunyi, bagi remaja kita ini? Benarkah mereka ini frustasi yang makin lama makin parah,dihinggapi perasaan hampa dan sia-sia,di tengah segala kemewahan instan itu.

Gambaran khas,tentang lingkungan itu,biasanya menyangkut para anggota keluarga yang jarang sekali dapat bertemu.Masing-masing mempunyai kesibukan sendiri-sendiri,dan praktis masing-masing kurang peduli. Semakin diperburuk dengan kurangnya hubungan emosional antara para anggota keluarga. Dan menjadi lengkap dengan lemahnya pedoman moral. Sisi lain akibat derasnya arus informasi yang tidak ditepis,dan di tengah keadaan itu tak ada contoh yang bisa diambil, bahkan tidak dari orang tua sendiri hanya contoh jelek dari alat komunikasi yang begitu mudah menyihir kepribadian mereka. Blokir dan pelarangan konten porno baik ,namun itu saja belum cukup

Barangkali, kalau saja kelompok-kelompok remaja yang memendam perasaan mendalam tentang pandangan hidup tumbuh pesat,kejahatan di lingkungan mereka itu bisa ditekan sampai ke tingkat kenakalan biasa.Klub-klub sain, pengajian para remaja, TPA untuk belia,misalnya organisasi-organisasi pemuda masjid.Tapi juga klub-klub sosial lain yang rekreatif di luar rumah .yang mestinya harus dikembangkan ketimbang mall dan apartemen serta hotel.

Jadi, persoalan ruang sosial yang terbatas bagi remaja di pemukiman padat, dan persoalan kehampaan bagi remaja di enklave sosial yang kaya,pada dasarnya sama.Masing-masing menjadi dorongan untuk ke luar,pergi mencari perhatian,mencari jati diri dan jalan-jalan menjadi panggung ekspresi diri mereka.

Pertanyaan selanjutnya sampai kapankah,kiranya,mereka akan terus berkelahi dan membunuh ? Jawabannya barangkali sampai kita mempunyai basis-basis keluarga yang kuat. Sampai kota-kota dibangun lebih manusiawi, bukan sekedar mall,apartemen dan hotel berbintang .Hingga sebuah kota mampu memberikan tempat-tempat yang cukup untuk kegiatan rekreatif bagi mereka. Dan kita mampu mendudukan nilai-nilai agama yang bisa secara paedagogis relevan dengan perkembangan jiwa mereka.

Solo,21 Januari 2011

  • Muhammad Taufiq, SH MH, advokat- kandidat Doktor Ilmu Hukum FH-UNS